Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Tak Ada Tempat Sembunyi

Sore ini lebih dingin dari hawa biasanya. Sebab hujan turun sejak siang tadi. Sepulang bekerja, aku biasa mengerjakan tugas rumah. Setelah semuanya beres, aku merasa senang karena hari ini tidak terlalu melelahkan walau cukup menguras tenaga. Kupilih menyetel musik dan mendengarkan dengan seksama. Tanpa aku sadar, aku memilih lagu yang sama berulang kali. Ia kesukaanmu, dan kau pasti tahu. Ya, suatu kali kita pernah menyanyikannya bersama. Melepas tawa, di malam hari penuh ceria. Tanpa memikirkan takdir kita akan dibawa sampai kemana. Diam adalah salah satu jarak yang tidak terlihat namun nyata terasa. Cara kita menjelaskan tentang kesadaran untuk saling melihat satu sama lain. Seringkali, aku mencuri kesempatan waktu hanya mencari hiburan semata-mata disela merindukanmu saat menunggu sendirian itu melelahkan rasanya. Entah apa yang kita lalui hari ini, aku cukup bersyukur untuk semuanya. Begitu banyak hari-hariku yang dipenuhi cerita dan berharap kau setia mendengar keluh kesahku. Be...

Inilah Adanya

Kami sama-sama patah hati, Merasakan luka hadir seakan menikam, dalam ke jantung dan nadi. Lewat senyum sederhana tanpa menganggap apa-apa Adu pandang di balik sosial media Padahal sebenarnya kita sedang menipu Diri kita sendiri yang sakit Diberi kenyataan baru bahwa inilah, Namanya kehilangan. Waktu itu, Kami berusaha mencari kesenangan Kesana-kemari menemukan peristirahatan Mengukir cerita baru, menutupi prasangka Alih-alih sebagai penghibur lara Yang ada malah semakin mengoyak dada Sebab merelakan belum tuntas sepenuhnya Dan perlahan kesadaran itu pulih, Setelah sekian proses terjalani Terkadang hanya ingin diam Merenungi apapun di hari lalu Lalu, sedikit demi sedikit logikaku terbangun Ia seperti dendam atas ketidakpedulian waktu Meski tidak semudah bibir mengucap kata, Ya mau bagaimana lagi? Belajar menerima keadaan, Memulai hidup tanpa bayang seseorang, Menikmati perjalanan hidup begini adanya. Menebus satu-persatu ya...

Janji Untuk Kembalimu

Dalam gerimis yang datang malam ini, ada sebuah doaku terkirim untuk Tuhan: "Semoga, esok pulangmu tak menyisakan luka  di kepala sebagai ingatan, di hati untuk rasa-rasa lalu, dan mata yang biasa untuk kau menatapku itu." Acapkali debar itu masih kukenali dengan jelas Inikah pertanda aku mengharapkannya? Atau sebatas jejak yang belum sempat terhapuskan secara tuntas? Lalu, lagu-lagu kudengar dengan penuh sesak Memori mengurai satu-persatu Menjelaskan perlahan tentang kelebatan kisah patah Dari sebuah bekas pelukan seseorang Uluran tangan yang selalu siap melengkapi suasana hati Kebersamaanya sungguh manis dan memikat, seperti warna-warni permen kapas... Ah, aku ingin segera terlelap segera Setelah membayangkan sekian berjuta kali Menanggung rindu takkan mudah  Sebab kesendirian semakin membuat waktu cepat, Berubah menyelaraskan keadaan , Berkembang supaya lebih membesarkan hati, Kumpulan pengalaman mengajarkan banyak hal Apapun yang didapatkan ha...

Menelan Kenyataan

Aku tak menyukai ini, Derap kakiku semakin jauh dari jangkauanmu Dekat pun sudah terasa hampa Perlahan terbawa arus waktu Kemanakah kau bawa hariku? Hanya ada dingin yang menjerat kuat Lekat pada rindu dalam-dalam di kepala Menyesakkan seisi rongga tubuhku Aku ingin bersumpah serapah, Tentang apapun yang kau beri pada perasaanku Namun tak punya nurani jika sedikit ucapanku salah Kusadar, Tuhan selalu mendengar dengan baik Apa yang hamba-Nya katakan Maka, kukasihi lagi kehilanganmu itu Apakau kau tahu itu? Rasanya baru seperti kemarin kebahagiaan itu hadir Seakan-akan pintar mencuri separuh milikku Lalu, menenggelamkan kemauan untuk mencari selain kau Sedangkan, kini dengan mudahnya kau berpaling Menemui hati baru atau malah menutup pintu hatimu Atas itu, aku tak bisa melakukan apa-apa Dengan kata lain, perlahan kita harus menyelesaikan Yang belum sampai akhir, Malahan awal yang kita anggap kita itu, Memang tiada.

Sebab, Aku Pasrah

Jauh dalam hari-hari yang penuh ingatan tentang dirimu. Kini tidak lagi kuagungkan rindu dan semu merah pipi saat bertatap dengan kamu. Aku sadar, perasaan yang pernah hadir bukanlah menjadi arah kemana kita akan memutuskan ingin. Mungkin, di suatu hari lalu. Entah di waktu kapan, jatuh cinta dibalik senyum dan tatap ialah perkara sembunyi-sembunyi yang pandai memata-matai. Oleh sebab itu, aku pernah terjatuh tanpa tahu dasarnya kenapa terluka sebegitu dalamnya. Tidak usah paksakan obrolan agar kembali menghangatkan suasana. Karena semakin kita berpura-pura untuk peduli, semakin kita berlaku jahat kepada diri sendiri. Berbohong pada siapapun yang tahu bahwa kita sedang mencoba berusaha baik-baik saja. Namun nyatanya tidak sama sekali. Berusaha memanggil masa lalu yang tengah pergi selangkah demi selangkah menggapai asa baru. Sedikitpun tidak pernah ada niat membenci keadaan ini. Seringkali kujawab pertanyaan pada diri sendiri, salah satunya mengapa aku sudah terlanjur takut mengalami...

Merasakanmu, Lagi

"Ada apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Sebuah kata yang sering kutanyakan untuk diri sendiri, ketika kembali mengingatmu dengan mudah. Di antara deras hujan, masih kurasa hangat jaketmu. Di lagu-lagu lawas terdengar seperti nyanyian yang pilu. Di jalanan kota telah banyak menggaris-gariskan kenang. Menatap awan, menatap rautmu juga. Di setiap seduh kopi dan aroma parfum menguar jelas bau harum tubuhmu yang senantiasa selalu kurindu. "Aku ini mencintai siapa?" Tanya diriku di pikiran-pikiran yang mengabu. Ketika waktu berputar lebih cepat dari harapan manusia. Adakah yang bisa lebih tepat mengintip rahasia-Nya? Aku dapat mencintaimu, dimana dan kapan saja. Sederhana, tanpa perlu banyak penjelasan mengapa jatuh cinta ialah perkara yang rumit. Kita ini dua orang manusia, tempat banyak khilaf. Begitupun juga yang dirasa, pula dimiliki. Pada pilihan singgah atau menetap, hati pun begitu. " Sudah berapa lama aku pergi? Tetapi tidak kemana-mana?" Semenj...

Bertemu Kamu

Lamunanku terpantul di cermin kamar. Tersenyum samar mencari memori yang tersimpan dalam pandang hitam bola mata. Kusentuh kaca itu, tiba-tiba dingin menusuk tajam jemari. Sehela nafas membawaku melihat diri sendiri, lalu dengan cepat tubuhku terhisap ke dalam cermin. Aku jatuh tersungkur, didepan seorang perempuan yang mirip diriku. Seakan aku adalah dirinya pula, dapat merasakan apa yang ia pikiran. Kulihat berkali-kali aku yang lain melemparkan kertas berwarna biru muda setelah membaca isi surat itu, tidak yakin akan menyampaikan perasaan menyambut bulan kebahagiaan, menuju hari jadi yang ke-13 bulan. Otakku secara cepat menemukan dirimu, seorang lelaki berkumis tipis, seakan mengulang kembali kata-kata “telah mencintaiku”. Ah, sekian lama aku tidak menatapnya, kini aku telah berjumpa dengannya lagi. Ada secercah harap tidak ingin kehilangan. Inikah cinta pertama seperti anak remaja yang bersemu merah ketika berjumpa di halaman sekolah, bercumbu rayu lewat tatapan di balik ...

Mungkin Benar

Mungkin benar, Dia mampu bersikap lebih dewasa, sedangkan aku masih bersifat kekanakan. Dia terlahir sudah mempunyai segalanya: harta, tahta, rupa. Sedangkan aku dapat mempunyai seadanya, yang  kudapatkan sendiri dengan cara berjuang meneteskan peluh keringat dan melupakan rasa pegal yang hinggap di badan. Dia selalu bisa membuatmu merasa nyaman, walau hanya dengan cara memandang diam-diam. Tidak seperti aku, yang berada di sampingmu. Untuk menyayangimu, namun enggan kau toleh. dan masih banyak hal lain, yang mampu membuatmu tega menyakitiku perlahan. Bukan keahlianku menilai seseorang. Tetapi aku cukup sadar diri untuk menjadikanmu milikku. Entah sampai kapan kamu akan terus berlari, mengejar dia yang terlihat sempurna di matamu. Lalu aku hanyalah seonggok perempuan  manja , penakut dan pembawa risau di dadamu. Mungkin benar, Melupakanku adalah keputusan yang baik, tentang cara Tuhan agar mengajarimu cara berpikir bahwa aku tidaklah baik untuk ...

Bukan Tentang Siapa

Gambar
Pertemuan adalah salah satu takdir Tuhan yang sudah Ia rencanakan jauh hari sebelum kita jatuh hati. Di tanganNya pula, terdapat kisah-kisah yang telah tertulis  sebelum kita terlahir. Lalu hadapkan oleh banyak pilihan yang mampu menjebak bila tidak pintar memilih, berujung pada satu kata; berhenti atau akan seterusnya bersama? Dalam segala kerendahan hati, aku tidak ingin melupakan Tuhan ketika berpangku harap. Berharap pada manusia, ternyata hanya membuat hati sakit bukan kepalang. Perasaan seakan dipaksa mati begitu saja, kupikir tidak ada seseorang yang bersedia menyembuhkan. Semakin lama, semakin tenggelam pada kesia-siaan hidup. Di dekat telinga, jauh di kedua mata, kenangan masih berputar-putar baik dalam kepala. Menyuguhkan asa yang pupus. Seseorang itu, cinta yang pernah lekat padanya, sedalam lautan seluas langit ingin aku taruhkan. Melayarkan rindu-rindu di terik matahari dan dimensi berbeda. Menyilangkan kedua ego untuk menuju hasil sama, kembali mencinta...