Merasakanmu, Lagi
"Ada apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Sebuah kata yang sering kutanyakan untuk diri sendiri, ketika kembali mengingatmu dengan mudah.
Di antara deras hujan, masih kurasa hangat jaketmu. Di lagu-lagu lawas terdengar seperti nyanyian yang pilu. Di jalanan kota telah banyak menggaris-gariskan kenang. Menatap awan, menatap rautmu juga. Di setiap seduh kopi dan aroma parfum menguar jelas bau harum tubuhmu yang senantiasa selalu kurindu.
"Aku ini mencintai siapa?" Tanya diriku di pikiran-pikiran yang mengabu. Ketika waktu berputar lebih cepat dari harapan manusia. Adakah yang bisa lebih tepat mengintip rahasia-Nya?
Aku dapat mencintaimu, dimana dan kapan saja. Sederhana, tanpa perlu banyak penjelasan mengapa jatuh cinta ialah perkara yang rumit. Kita ini dua orang manusia, tempat banyak khilaf. Begitupun juga yang dirasa, pula dimiliki. Pada pilihan singgah atau menetap, hati pun begitu.
"Sudah berapa lama aku pergi? Tetapi tidak kemana-mana?" Semenjak itu, yang kutahu semua orang sama saja. Dipertemukan karena sebuah alasan menuju perpisahan yang menambatkan proses kedewasaan. Seberapa ikhlas dan setianya waktu menemani perasaan yang ngilu.
Di setiap langkahku mencari-cari, kenapa kutemui hanya kamu lagi? Apakah tiada yang lebih nyaman selain menetap di bayangan seseorang? Ya, harap itu mengasyikan. Aku seakan bisa menebak-nebak di akhir nanti. Tetapi, aku seringkali lupa pada siapa seharusnya harap bertumpu dan dipasrahkan.
"Aku sedang menunggu waktu itu; pada tempat dan waktu yang entah pada siapa kau nantinya akan kembali."
Aku menangis, tetapi percuma. Kamu takkan bisa mendengarnya. Kamu sudah jauh, tinggal di tempat yang lebih bisa merawat lukamu. Haruskah aku melangkah lagi? Berharap jika yang kutemui kamu, sudahlah. Seharusnya memang berdiam diri dan menikmati semesta sedang bermain-main dengan perasaanku, itu benar. Sampai waktunya aku sembuh dari sakit yang tak kutahu bentuknya seperti apa.
Tak kutahu hari apa nantinya
Pertemuan dari sepasang mata
Telah diredupkan oleh nestapa
Di hatinya sendiri yang merana
Sepatah kata, atau banyak kalimat
Tak mampu menjawab rasa terkelumat
Penuh diiringi pedih tertambat
Berharap semesta setia merawat
Cinta itu bukan kata-kata
Tetapi diamnya mempunyai banyak makna
Ketika seseorang telah tepat menatapnya
Dengan takut kehilangan dan suka cita
Komentar
Posting Komentar