Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Bila

Bila suatu hari kau kehilanganku, Lakukan apa yang terasa baik─bagimu,bagiku Terus melangkahlah, Tak perlu memandang masa kelam Kau harus percaya, Aku selalu meluangkan waktu, Sekedar berjalan untuk menemukan dirimu di dalam pikiranku, Mengulang lagu-lagu kesukaanmu Karena aku seperti mendengar suaramu, Masih tersimpan, kesenanganku Memandang kamu yang dulu, di foto-foto kita yang kau hapus dari sosial media. Tak lupa, aku menunggu senja Kebiasaanku terduduk diam ditemani sehelai kertas dan seberkas tinta Menuliskan kamu yang indah, seperti senja yang kunikmati sendiri Aku mengingat baik senyummu. Setiap kali aku merindukanmu, Ada doa-doa baik kukirim pada Tuhan Agar Ia menyampaikan dengan cara terbaikNya. Bila suatu hari kau ingat aku, Ingat sajalah. Kumohon, hapus rasa kecewamu Aku tidak ingin kau melihatku dengan rasa benci. Maafkan aku, sampai detik ini Belum berhasil bisa memahami perasaanmu. Tetapi kau hebat, Bisa mengerti mauku Tanpa aku pun tahu. ...

Pergimu yang Tak Kuingini

Setiap kali aku mencoba mengambil langkah untuk pergi, semakin kuat hatiku bersikeras kembali. Mungkin akulah yang terlalu egois, belum ingin melepaskannya dari perasaanku. Meski waktu terus berlalu, aku tidak tahu hidup sampai waktu mana akan merelakan semuanya— kamu dan kehilangan ini. Aku terjebak dalam harapan yang kubuat sendiri. Terkadang aku merasa lelah dan marah, mengapa jatuh cinta harus sesakit ini? Hari ini, esok, lusa dan entah hari keberapa lagi aku akan gagal dengan janjiku sendiri— untuk tidak terlalu jauh mencari kabarmu. Aku masih merasakan kamu ada dimanapun— di dering handphone, di ruang tamu, di teras rumah, tempat makan favorit kita, perpustakaan, dan sebagainya jika kamu mengingatnya. Ketika melewati jalan-jalan kota, kudengar dengan jelas perbincangan yang masih terasa segar di kepalaku—kita pernah bahagia sebelum saling hidup bersama hati yang telah mati. Selama tiada aku nati, kamu tetap baik-baik saja. Sebaliknya, denganku. Sebaliknya....