Sebab, Aku Pasrah

Jauh dalam hari-hari yang penuh ingatan tentang dirimu. Kini tidak lagi kuagungkan rindu dan semu merah pipi saat bertatap dengan kamu. Aku sadar, perasaan yang pernah hadir bukanlah menjadi arah kemana kita akan memutuskan ingin. Mungkin, di suatu hari lalu. Entah di waktu kapan, jatuh cinta dibalik senyum dan tatap ialah perkara sembunyi-sembunyi yang pandai memata-matai. Oleh sebab itu, aku pernah terjatuh tanpa tahu dasarnya kenapa terluka sebegitu dalamnya.

Tidak usah paksakan obrolan agar kembali menghangatkan suasana. Karena semakin kita berpura-pura untuk peduli, semakin kita berlaku jahat kepada diri sendiri. Berbohong pada siapapun yang tahu bahwa kita sedang mencoba berusaha baik-baik saja. Namun nyatanya tidak sama sekali. Berusaha memanggil masa lalu yang tengah pergi selangkah demi selangkah menggapai asa baru.

Sedikitpun tidak pernah ada niat membenci keadaan ini. Seringkali kujawab pertanyaan pada diri sendiri, salah satunya mengapa aku sudah terlanjur takut mengalami situasi sama. Aku dihadapkan oleh banyak pilihan, tetapi tidak ada satupun pilihan yang membuat kita semakin dekat atau sebaliknya. Menyisakan tanda tanya. Seakan aku ditarik mundur namun tidak ada yang berhasil menjauh, dan melangkah maju pula tidak ada hasil membuat dirimu mengerti.

Siapa yang akan kumintai pertanggung jawaban atas jarak pada kedua bola mata dan renggang tangan yang tidak pernah sampai untuk memeluk terlebih dahulu? Tuhan, bawalah segenap perasaanku menuju rela jika ia enggan menatapku lebih dari sekedar biasa saja. Sedangkan aku, menatapnya bersama rasa cinta yang luar biasa. Putuskan, secepatnya. Aku percaya, rencana-Mu Maha Luar Biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada Tempat Sembunyi

Bukan Tentang Siapa