Bertemu Kamu
Lamunanku
terpantul di cermin kamar. Tersenyum samar mencari memori yang tersimpan dalam
pandang hitam bola mata. Kusentuh kaca itu, tiba-tiba dingin menusuk tajam
jemari. Sehela nafas membawaku melihat diri sendiri, lalu dengan cepat tubuhku
terhisap ke dalam cermin. Aku jatuh tersungkur, didepan seorang perempuan yang
mirip diriku. Seakan aku adalah dirinya pula, dapat merasakan apa yang ia
pikiran.
Kulihat
berkali-kali aku yang lain melemparkan kertas berwarna biru muda setelah membaca isi surat
itu, tidak yakin akan menyampaikan perasaan menyambut bulan kebahagiaan, menuju
hari jadi yang ke-13 bulan. Otakku secara cepat menemukan dirimu, seorang
lelaki berkumis tipis, seakan mengulang kembali kata-kata “telah mencintaiku”.
Ah, sekian lama aku tidak menatapnya, kini aku telah berjumpa dengannya lagi. Ada
secercah harap tidak ingin kehilangan. Inikah cinta pertama seperti anak remaja
yang bersemu merah ketika berjumpa di halaman sekolah, bercumbu rayu lewat
tatapan di balik jendela dan rasa menyenangkan bila bel pulang berbunyi keras
di penjuru kelas. Masih terlihat jelas dalam mataku, senyummu sangat manis
apabila mampu terkecap waktu itu. Sebuah rasa yang datang dari memori yang
membahagiakan sebagai pasangan kekasih ketika beranjak usia menuju dewasa.
Seakan
dibawa lagi pada kenangan itu, ketika jarum-jarum waktu siap menusuk perasaan kita
kapanpun yang ia mau. Cinta bukanlah sesuatu yang baik untuk dibercandakan.
Masih terdengar jelas suaramu di ujung telinga, matamu yang lekat menatapku
saat senja tiba, dan deru motormu menghiasi setiap jalan rindu tercipta dari tawa-tawa
kita. Kamu suka mengusap kepalaku, memberi kehangatan di setiap
perlakuanmu. Aku tidak melupakannya
begitu saja, tetapi arus masa berbalik sedemikian cepatnya. Tanpa disadari,
setiap kebahagiaan akan beriringan dengan kekecewaan. Setiap cerita telah
dimulai pasti memiliki akhir di takdir Tuhan tetapkan untuk para manusia.
Angin
kencang membawa tubuhku limbung, terseret ke dalam labirin gelap yang jauh dan
penuh kekhawatiran. Tiba-tiba terjatuh lagi, terhempas lebih keras dari hal
pertama yang aku rasa. Kulihat tubuhku kini penuh luka, terjerembab di halaman
teras kota. Kebasahan karena hujan turun tanpa mau peduli ada seorang perempuan
yang remuk hatinya. Mengangkat cerita dari kisah masa silam, aku telah
dibiarkan mengulang lagi setelah dipaksa melupakan.
Tatapanku
bertemu denganmu, di tahun yang entah keberapa, aku tidak bisa menghitungnya.
Wajahmu terlihat kian menyorot mimik tegas, antara menutupi kegugupan atau
sudah tidak mau berbasa-basi. Aku rindu kamu, di bawah lampu jalan yang
bersinar redup menerangi pikirku yang mengabur. Di titik ini, inginku kembali ke pelukanmu
yang sedang berdiri di seberang jalan. Melihat kamu diam, tanpa bicara namun
seolah bibrmu sedang mengucap banyak kata di dalamnya. Aku menangis keras,
tetapi tidak ada satupun suara yang terdengar. Seperti ada yang menghalangi aku
berbicara, tiba-tiba badanku seakan lumpuh untuk beberapa saat. Berusaha
berdiri mengejar sosokmu disana, meracau tidak karuan sebab benci aku tidak
bisa apa-apa walau di hadapmu sekarang ini.
Perempuan
itu, iya. Dia datang memelukmu erat dari arah belakang. Melingkarkan tangannya
di pinggangmu. Dia telah merebut tempat kesukaanku! Itu tidak bisa aku biarkan!
Aku semakin berjuang menggerakkan inderaku hingga nafas sudah hampir terkuras
habis. Aku semakin meraung keras di antara hujan, kamu, dan dia. Rasa sakit
terasa tidak ada apa-apanya ketika aku seakan datang untuk dipertemukan
denganmu di tempat ini, tempat terakhir kali kamu menyatakan cinta hanya
kepadaku saja.
Aku
terengah-engah, nafasku mulai terdengar. Sekejap kulihat tanganku terangkat dan
kaki-kakiku mampu digerakkan. Dalam hati berucap syukur, doaku terkabul. Aku
bangkit dengan perlahan, berjalan menuju seberang terseok-seok pun tidak apa.
Asalkan aku harus menyelesaikan perasaanku di tempat terkutuk ini. Sampai di
tengah jalan, perempuan itu tia-tiba pergi meninggalkan kita. Kulangkahkan kaki
cepat, menyusulmu di jarak sepuluh meter. Rasa haru, bahagia, dan kesedihan
menjalar di ujung keringat yang menetes dari pelipisku. Namun takdir berkata
lain, suara klakson dari truk berwarna kuning dengan cepat melesat menembus
tubuhku tengah melayang-layang bersama perasaanku yang bimbang.
Sebuah
usapan lembut dari tangan yang kukenal, membuat mataku terbuka perlahan.
Mengintip sinar cerah yang menyelusup ke dalam bola mataku. “Sayang, aku
mengkhawatirkan kamu.” Suara itu, dari tenggorokan lelaki yang pernah
serta-merta mengatai kamu “Bangsat!”.
Tubuhku
masih terasa lemas, namun dia sudah menghujani puluhan ciuman di wajah dan
bibirku, serta memelukku lebih erat dari yang kamu lakukan di tempo hari lalu. “Aku
sudah berusaha membangunkan kamu, tetapi yang kudapat hanyalah kesia-siaan.
Kamu terus-menerus menangis. Apakah kamu telah mimpi buruk?”
Aku
tidak membalas perlakuannya pagi ini, pikiranku masih sibuk dengan kehadiranmu
malam tadi.
Komentar
Posting Komentar