Bukan Tentang Siapa
Pertemuan adalah salah satu takdir Tuhan yang sudah Ia rencanakan jauh hari sebelum kita jatuh hati. Di tanganNya pula, terdapat kisah-kisah yang telah tertulis sebelum kita terlahir. Lalu hadapkan oleh banyak pilihan yang mampu menjebak bila tidak pintar memilih, berujung pada satu kata; berhenti atau akan seterusnya bersama? Dalam segala kerendahan hati, aku tidak ingin melupakan Tuhan ketika berpangku harap. Berharap
pada manusia, ternyata hanya membuat hati sakit bukan kepalang.
Perasaan seakan dipaksa mati begitu saja, kupikir tidak ada seseorang
yang bersedia menyembuhkan. Semakin lama, semakin tenggelam pada
kesia-siaan hidup.
Di
dekat telinga, jauh di kedua mata, kenangan masih berputar-putar baik dalam
kepala. Menyuguhkan asa yang pupus. Seseorang itu, cinta yang pernah lekat
padanya, sedalam lautan seluas langit ingin aku taruhkan. Melayarkan
rindu-rindu di terik matahari dan dimensi berbeda. Menyilangkan kedua ego untuk
menuju hasil sama, kembali mencintai untuk menemukan kehilangan lagi. Di kesekian
kalinya, masihkah pantas menyebut nama dia dalam doa masa depan? Karena
kenangan bisa mengubah segalanya.
Menyusuri
jauh ke dalam hidupmu, itu inginku. Sebanyak bilangan yang menghitung hari untuk
mundur sebelum mengenalmu, tidak lagi ingin membahasnya lagi. Yang terpenting,
mari bagaimana cara menyusun rencana menapaki tangga tinggi menjulang pada ego. Semakin keras usaha yang ada, semakin tinggi pula menaklukkan
semesta dan dunia yang hadir di antara kita. Mencari jalur yang benar, lalu
melangkah lebih lebar, merebut kembali harapan-harapan yang pernah punah.
Rampas sisa sedih yang mengganjal, biar suara pening dari mereka terbungkam. Dingin
yang merasuk bukanlah musuh berarti.
Entah di terik atau mendung, aku masih
dapat mengingatmu dengan baik. Biarlah menjadi teman ketika memberanikan langkah
kaki beranjak mengunjungi tempat-tempat kesukaan kita. Begitu banyak kenangan
yang ditinggalkan. Kesepian, rindu, kehilangan, entah apa saja yang terasa
menyakitkan saat ini. Bagaimana bisa melupakan, kalau kamu masih dirindukan
keberadaannya?
Ternyata, Tuhan lebih baik untuk hidupku saat ini. Aku akan bahagia, walau tidak denganmu hari ini, hari esok, lusa atau seterusnya. Selama masih ada keyakinan untuk berani menghadapi hidup yang seringkali mengecoh perasaan manusia. Tetaplah, diam dan jangan pernah kembali bila pada akhirnya kita akan sama-sama saling tersakiti.

Komentar
Posting Komentar