Pergimu yang Tak Kuingini
Setiap kali aku mencoba mengambil langkah untuk pergi, semakin kuat hatiku bersikeras kembali. Mungkin akulah yang terlalu egois, belum ingin melepaskannya dari perasaanku. Meski waktu terus berlalu, aku tidak tahu hidup sampai waktu mana akan merelakan semuanya— kamu dan kehilangan ini. Aku terjebak dalam harapan yang kubuat sendiri. Terkadang aku merasa lelah dan marah, mengapa jatuh cinta harus sesakit ini?
Hari ini, esok, lusa dan entah hari keberapa lagi aku akan gagal dengan janjiku sendiri— untuk tidak terlalu jauh mencari kabarmu. Aku masih merasakan kamu ada dimanapun— di dering handphone, di ruang tamu, di teras rumah, tempat makan favorit kita, perpustakaan, dan sebagainya jika kamu mengingatnya. Ketika melewati jalan-jalan kota, kudengar dengan jelas perbincangan yang masih terasa segar di kepalaku—kita pernah bahagia sebelum saling hidup bersama hati yang telah mati. Selama tiada aku nati, kamu tetap baik-baik saja. Sebaliknya, denganku. Sebaliknya.
Kamu adalah secuil ingatan yang kuperbicangkan dengan aksara, senja, dan tawa yang dibuat-buat. Apapun yang ada pada dirimu tersimpan rapi, terlipat dan kutaruh dalam sekotak rindu agar mereka tak menemukanmu kecuali aku. Kenapa kamu menjauh? Sedangkan aku sama sekali tidak pernah ingin melakukan hal seperti itu. Aku takut, jauhmu menjadi tak ingin mengenaliku lagi.
Komentar
Posting Komentar